Betapa Mulianya Orang yang Berpuasa

Pembicara : Kang Gyn

Romadhon adalah bulan berkah. Kapan pun Ramadhan itu datang. Tahun sekarang, tahun lalu, atau tahun depan. Senantiasa keberkahan menyertai bulan tersebut. Ampunan, keberkahan, dan begitu banyak lagi keutamaan bulan Romadhon.

Banyak hadits yang menerangkan bahwa di bulan Romadhon banyak pintu surga yang terbuka dan pintu neraka tertutup. Lalu, apakah motivasi tersebut memberikan efek terhadap diri kita? Seringkali kita menikmati Romadhon hanya “kulitnya” (sekedar menahan haus dan lapar).

Padahal puasa juga adalah juga menahan segala hawa nafsu yang tersembunyi. Keinginan. Syahwat. Syahwat berbelanja. Syahwat untuk berhubungan badan dengan pasangan. Syahwat menahan emosi dan lain sebagainya yang sangat sering kita lupa untuk menahan dan mengendalikannya.

Bagaimana tidak. Ketika dari Shubuh sampai Maghrib kita memang kuat menahan lapar dan dahaga. Namun begitu datang waktu Maghrib, maka hilang puasa kita. Hilang kemampuan dan daya kita untuk mengendalikan nafsu dan keinginan.

Semua jenis makanan yang bisa kita hadirkan, kita hadirkan. Gorengan, kolak, es campur, dan segala macam kita himpun di atas meja makan. Padahal konsep Romadhon adalah konsep yang harus dilaksanakan selam satu bulan penuh. Bukan hanya dilaksanakan selama Shubuh sampai Maghrib saja.

Justru puncak puasa dalam arti yang luas adalah ketika kita hendak membatalkan puasa saat masuk waktu Maghrib. Mampukah kita tetap mengendalikan dan menahan diri saat mulai membatalkan puasa (ta`jil) sampai selesai.

Yang biasa kita lakukan justru malah berlebihan saat batal puasa. Hasilnya kita malah kekenyangan. Sholat Maghrib tertinggal. Sholat Isya mengantuk. Dan, taraweh lewat. Meskipun Rosulullah menjelaskan bahwa bagi orang yang berpuasa itu ada dua kebahagiaan. Bahagia ketika ta`jil dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Tuhannya.

Bahagia di sini adalah bahagia yang apa adanya. Sesuai kadarnya. Bukan pula termasuk kebahagiaan yang berlebihan. Lalu, Rosulullah bersabda, “Barang siapa yang ditutup usianya dan dia dalam keadaan berpuasa maka ia akan masuk surga.”

Bayangkan, betapa mulianya orang yang sedang dalam keadaan berpuasa. Orang berpuasa itu ketika ia hidup, Allah senantiasa bersamanya. Dan, ketika wafat Allah juga yang pertama kali menyambut kedatangannya dengan penuh rasa gembira. Itulah mengapa orang yang berpuasa dijamin masuk surga.

(Kultum Romadhon Madani 1439 H / 2018 M)

Video

114 Total Views 3 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +