Bersahabat dengan HIV/AIDS

1381596_3507935314355_735715059_nOleh: Yanto Abdul Latif

Seperti bongkahan batu besar menghantam dada. Nafas seakan berhenti. Dunia terasa gelap. Tidak ada kehidupan. Sunyi dan sepi.

Seperti itulah kira-kira gambaran psikologis seorang yang terdiagnosa HIV/AIDS. Rasa putus asa. Tidak ada harapan hidup lagi. Tuhan tidak adil. Lebih baik mengakhiri hidup. Jijik dengan diri sendiri. Dan, seratus bahkan seribu kalimat negatif lainnya yang terlintas dalam pikiran orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

Menurut penulis, pemikiran negatif itu sebenarnya ODHA telah membuat stigma bagi dirinya sendiri. Sehingga ODHA lebih memilih untuk berdiam diri dalam rumah. Tidak mau bertemu  orang. Mogok kerja. Bolos sekolah/kuliah hingga drop out. Pada akhirnya ODHA hanya meratapi dirinya dan tidak punya kualitas hidup.

Pertanyaan kemudian, apakah orang-orang di luar sana punya pemikiran yang sama dengan ODHA? Belum tentu! Seiring dengan perkembangan teknologi dan informasi, masyarakat sekarang sudah melek tentang apa itu HIV/AIDS. Cara virus itu bekerja dan bagaimana cara menularnya.

Melalui penyuluhan-penyuluhan yang dilakukan oleh LSM-LSM dan dinas kesehatan, bahkan di Google, berapa banyak artikel-artikel yang membahas persoalan seputar HIV/AIDS.

So sahabat-sahabat ODHA, mari terima HIV/AIDS sebagai bagian dari hidupmu. Virus itu datang mengangkat derajat kemanusiaanmu. Virus itu datang dari Allah. Terimalah dengan lapang dada. Luaskan hatimu untuk bersahabat dengan virus itu.

Bahwa dengan keikhlasan yang tulus dan murni, virus yang ada dalam tubuh ODHA itu nantinya bisa menjadi kunci pembuka pintu surga, diiringi dengan merubah perilaku yang lebih baik.

1245 Total Views 6 Views Today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +