Berpikir, Mikirin, dan Kepikiran

(Catatan 14, Madani Adventure, Gunung Papandayan, Garut, 22-24 Agustus 2017)

madanionline.org – Dalam psikologi dikenal istilah relaksasi progresif atau releasing technique. UGyn lalu mengajak seluruh peserta menarik dalam-dalam melalui hidung dan melepasnya dengan cara berteriak sekeras-kerasnya.

UGyn lalu mengajukan pertanyaan, “Apakah sekarang perasaan kita merasa lebih enak?”

“Enak!” jawab para peserta dengan kompak.

“Tapi orang-orang yang ada di sekitar kita, mereka yang lagi pada nongkrong di warung merasa terganggu nggak?”

“Terganggu!”

UGyn lalu mengulangi instruksi di atas. Namun kali ini ketika berteriak para peserta diajak untuk ikut membuang jauh-jauh segala perasaan bosan, bete, boring, kecewa, dan semua perasaan negatif yang dirasakan saat ini.

Para peserta kini dipersilahkan teriak berdasarkan kelompoknya masing-masing. Semua peserta disarankan untuk duduk dengan tegak agar diafragmanya tidak sakit atau tertahan ketika berteriak.

41 UGyn sedang memberikan renungan malam
(Foto 41: UGyn sedang memberikan renungan malam)

“Terapi teriak ini memang enak tapi sayangnya hanya enak buat kita saja tidak bagi orang lain yang pasti akan merasa terganggu dengan teriakan-teriakan kita,” ujar UGyn.

UGyn meminta Ust. Rambe untuk maju ke depan. Dengan meminta maaf terlebih dahulu, UGyn meminta Ust. Rambe berdiri menghadap para peserta.

“Ini apa?” ujar UGyn sambil menunjuk kepala Ust. Rambe.

“Kepala!” jawab para peserta.

“Kepala isinya apa?”

“Otak”

“Otak fungsinya apa?”

“Berpikir”

“Berpikir, mikirin, apa kepikiran? Kalau mikirin itu untuk masa depan. Masa depan sudah ada belum? Kalau kepikiran itu untuk masa lalu. Masa lalu masih ada apa nggak? Otak kita sekarang dipakai tidak? Otak fungsinya apa?”

“Berpikir!”

“Tuhan menerangkan, ‘Aku itu bergantung pada prasangka hamba-Ku.’ Kalau kita sekarang berpikir lapar, maka otak akan mengirim sinyal lapar ke seluruh tubuh kita. Sebenarnya awalnya kita nggak lapar-lapar banget. Tapi karena kita terus meyakini bahwa kita sedang lapar maka kita menjadi lapar beneran.

Begitu juga saat kita berpikir bahwa sekarang kita sedang bete, jenuh, atau bosan. Tadinya nggak bete-bete amat tapi karena kita terus berpikir kita bete lama kelamaan kita menjadi bete beneran.”

(Mohamad Istihori)

170 Total Views 6 Views Today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +