Bentengi Remaja dari Bahaya Miras dan Minol

Bentengi Remaja dari Bahaya Miras dan MinolSetiap orang dewasa pasti akan melalui satu tahapan penting dalam kehidupannya yaitu masa remaja. Masa ini sering di sebut juga dengan masa peralihan/transisi dari dunia anak menuju dunia orang dewasa. Dan sebagian orang juga menyebut masa ini sebagai masa pencarian jati diri.

Sebagai sosok laki-laki dewasa, penulis pun telah melalui tahapan penting ini. Cinta, persahabatan, tawuran, dan mencoba hal-hal baru adalah bagian tidak terpisahkan dari masa ini. Sifat remaja yang tertutup terhadap keluarga, susah di atur dan suka melawan telah menjadi bagian dari cerita hidup tersendiri. Tetapi beruntung keluarga penulis adalah keluarga yang bukan keluarga broken home dan selalu menggunakan pendekatan keluarga untuk menyelesaikan masalah serta mempunyai aturan ketat soal jam keluar malam dan mencari teman akrab.

Dengan kondisi keluarga yang baik-baik saja, tidak menjamin penulis dapat membedakan mana hal yang baik dan mana hal yang buruk. Karena masa itu adalah masa pencarian jati diri, sehingga jika penulis menggangap nyaman, maka akan penulis jalani saja. Tetapi banyak orang yang tidak seberuntung penulis, yang karena tidak ada kontrol dari diri sendiri dan keluarga sehingga terpuruk dalam perilaku negatif remaja dari merokok, membolos sekolah, tawuran sampai dengan ke tingkatan lebih tinggi yaitu mengkonsumsi minuman keras (miras) dan minuman alkohol (minol), seks bebas, dan penyalahgunaan narkoba.

Semua rantai perilaku negatif ini pada dasarnya bermuara dari satu titik awal yang dipandang awalnya tidak berbahaya. Dan sifat remaja yang suka berbagi cerita dan adanya prestise dari cerita tersebut menyebabkan penyebaran virus negatif ini dapat mudah menyebar dari teman yang satu kepada teman yang lain. Sebagai contoh seorang remaja yang berteman dengan teman sebaya yang merokok, mulanya dapat mengontrol diri tetapi karena seringnya berinteraksi dan mendapatkan cerita yang baik tentang merokok, sehingga tergerak hatinya untuk mencoba dan akhirnya ketagihan untuk ikut merokok.

Perilaku ini tidak berhenti sampai di merokok, karena ingin mendapat sensasi dan prestise lebih maka mulai beralih untuk mencoba hal baru seperti mengkonsumsi minuman keras dan minuman alkohol. Pada dekade ini, remaja adalah yang paling rentan terkena dampak negatif lanjutan dari miras dan minol yang menjurus pada perilaku seks bebas dan penyalahgunaan narkoba.

Minuman keras dan minuman alkohol sebagai media transisi dari perilaku negatif ringan ke perilaku negatif yang berat harus sedini mungkin di cegah penyebarluasannya terutama di kalangan remaja. Desakan untuk menggalang kampanye anti minuman keras dan anti minuman alkohol  telah banyak di suarakan oleh berbagai kalangan masyarakat sebagai bentuk kepedulian dan perlawanan terhadap barang haram tersebut. Desakan itu di lakukan karena menyadari betapa bahayanya miras dan minol bagi kesehatan manusia dan lingkungan.

Untuk membentengi remaja dari bahaya miras dan minol, intervensi pada remaja menjadi sangat penting. Pencegahan pada perilaku awal remaja yang secara potensial beresiko mengkonsumsi miras dan minol harus di cegah sedini mungkin. Untuk itu kita harus melihat secara holistik/komprehensif apa yang menjadi penyebab dan apa yang akan menjadi akibat dari sebuah perilaku.

Sebagaimana percontohan di atas, faktor yang berperan besar terhadap terbentuknya perilaku negatif remaja untuk mengkonsumsi miras dan minol adalah faktor lingkungan sosial yaitu teman sebaya yang negatif dan perilaku merokok. Di sini telah terdapat perubahan paradigma dalam proses pendewasaan, di mana pengaruh keluarga telah bergeser menjadi teman sebaya. Teman sebaya negatif memberikan dampak/pengaruh langsung tehadap perilaku untuk mengkonsumsi miras dan minol sedangkan pengaruh negatif dari keluarga berdampak tidak langsung.

Meskipun lingkungan keluarga hanya memberikan dampak tidak langsung, tetapi keluarga turut andil besar menciptakan kondisi bagi remaja dalam pemilihan teman sebaya. Keluarga yang terbiasa menerapkan pola hukuman fisik dan verbal dengan memberikan kritik berlebihan serta adanya kekerasan dalam rumah tangga merupakan faktor resiko bagi remaja untuk berteman dengan teman sebaya negatif.  Selain itu faktor temparemen dalam watak remaja berperan juga terhadap terbentuknya perilaku merokok dan minum minuman keras dan alkohol. Lingkungan masyarakat sebagai pelaksana fungsi kontrol sosial turut memberikan peran terhadap terjadinya perilaku mengkonsumsi miras dan minol oleh remaja. Jika masyarakat hanya diam dan melakukan tindakan pembiaran, bukan tidak mungkin perilaku minum miras dan minol oleh remaja akan meresahkan masyarakat.

Untuk membentengi remaja dari perilaku miras dan minol, perlu adanya tindakan pencegahan dari elemen kunci yaitu dari sekolah, keluarga, masyarakat dan pemerintah. Sekolah sebagai lingkungan yang menjembatani tumbuh kembangnya remaja perlu memberikan intervensi lebih kepada remaja, melalui pengarahan anak didiknya untuk melakukan kegiatan yang positif yang sesuai keinginan remaja baik di bidang olahraga, kesenian, dan lain-lain.  Untuk jangka panjang, di sarankan agar Usaha Kesehatan Sekolah bagi remaja di kembangkan dan keterampilan guru bimbingan dan konseling di tingkatkan.

Keluarga sebagai komponen lingkungan mikro perlu memberikan pendidikan agama dan akhlak yang baik bagi remaja. Karena agama dan akhlak merupakan benteng terkuat untuk mencegah miras dan minol. Selain itu keluarga perlu mempunyai kiat tersendiri untuk mencegah remaja dalam keluarganya mengkonsumsi miras dan minol  dengan cara menciptakan suasana terbaik dan nyaman untuk semua penghuninya. Beberapa kiat itu antara lain:

  1. Orang tua menghindari perselisihan dalam rumah tangga dan menahan diri dari mengucapkan perkataan yang menyakitkan, ejekan ataupun tekanan terhadap remaja untuk mencegahnya dari perilaku mencari obat stress melalui minum miras dan minol.
  2. Apabila orang tua mendapatkan anaknya minum miras dan minol, hendaknya jangan melakukan kekerasan, karena akan menjauhkan anak dengan orang tua. Jika di nasehati secara baik-baik remaja tersebut jadi besar kepala, maka solusinya adalah mengetahui apa yang membuat mereka menjadi seperti itu, karena umumnya anak remaja sedikit tertutup kepada keluarga.
  3. Orang tua memberikan aturan ketat tentang jam keluar malam, karena perilaku minum miras dan minol umumnya terjadi pada malam hari.
  4. Orang tua menyediakan waktu untuk melakukan kegiatan bersama seperti makan dan rekreasi bersama.

 Masyarakat dan pemerintah harus turut andil membentengi remaja dari bahaya miras dan minol seperti melalui kebijakan pemerintah dalam hal melindungi remaja dari serangan industri rokok yang di kaitkan dengan sponsor pada kegiatan olahraga dan musik. Karena mencegah perilaku mengkonsumsi miras dan minol di mulai dari pencegahan agar remaja tidak merokok. Dalam jangka pendek akan sangat baik  bila menggunakan forum peduli remaja yang ada sebagai forum koordinasi antar instansi pemerintah dan masyarakat, sehingga intervensi bukan hanya melalui pemberian informasi kesehatan yang bersifat insidental, tapi juga keterampilan asertif yang dilakukan secara berkesinambungan dengan pendekatan teman sebaya atau lewat kegiatan ekstrakurikuler.

Selain itu salah satu cara tercepat untuk mencegah bahaya miras dan minol adalah dengan melalui penerbitan peraturan hukum atau undang-undang tentang larangan minuman beralkohol. Dan jika itu tidak memungkinkan secara langsung total, pemerintah dapat melakukan penerbitan moratorium larangan minuman alkohol secara berjangka dengan berbasis capaian seperti menerbitkan moratorium minuman beralkohol dengan jangka waktu 2 tahun dengan basis capaian penghentian izin penerbitan baru industri miras ataupun izin tempat minum miras seperti cafe/bar dan pengurangan stok kiriman miras/minol berkala dan berjenjang pada suatu daerah. Moratorium ini dapat di evaluasi setiap 2 tahun.

Sumber: http://evanputra.wordpress.com/2013/05/10/bentengi-remaja-dari-bahaya-miras-dan-minol/

1,066 total views, 1 views today