“Asal Ada Kemauan Gangguan Jiwa LGBT dapat Disembuhkan”

(Bagian 3)

Bagaimana metode terpadu BPSS Prof. Dadang Hawari mampu mengobati gangguan jiwa pelaku LGBT?

Saya sudah sangat banyak menangani pasien LGBT. Jumlahnya sudah tidak terhitung. Pertama kalau ada kemauan dari yang bersangkutan bahwa “Saya ada kelainan. Saya ini bergaul sosialnya susah dan segala macam karena naluri saya menyimpang”. Itu bisa.

Nah kita tahu bahwa perilaku menyimpang itu karena ada gangguan di dalam susunan saraf pusat, yaitu di dalam sistim otak itu ada yang error. Titik-titik seksualnya ada yang error. Maka perlu diobati dengan terapi metode terpadu BPSS (Biologis, Psikologis, Sosial, dan Spiritual) Prof. Dadang Hawari.

Nah itu kita kasih obat (Terapi Biologis/Medis). Kemudian dilakukan konseling keluarga (Terapi Psikologis). Sebab keluarga juga biasanya tahu tapi nggak ngerti bagaimana mengatasinya Ia tidak bisa sendirian. Sesudah itu terapi sosial berupa berbagai kegiatan sosial seperti umumnya.

Misalnya kalau di Panti Rehabilitasi Madani Mental Health Care (MMHC) dilakukan kegiatan outbond ke gunung, arum jeram, futsal bersama, dan lain-lainnya dengan pengawasan atau bimbingan dari para ustad/konselor.

Sesudah itu keempat yang penting adalah Terapi Spiritual. Dari sini keagamaan ditanamkan benar-benar. Ayat Allah disebutkan bahwa ini dilarang. Dilakukan juga kajian secara ilmiah dan sholat tobat.

Lalu, diceritakan bahwa ini kejadiannya kalau ditelusuri sekitar 5 tahun. Umur 5 tahun itu biasanya sudah ‘rasanya agak menyimpang ini saya’. Nah itu digali, diterapi. Bisa kok. Banyak yang sudah berhasil, kalau mau. Masalahnya nggak mau atau nggak menyadari. Kayak orang sakit jiwa aja, kalau nggak dibawa-bawa oleh keluarganya karena bikin ribut bikin apa gak mau juga. Ini sakit jiwa memang.

Sekarang banyak tempat spa, fitness, pijat, atau gym yang dijadikan sebagai aktivitas LGBT. Kenapa hal ini bisa terjadi?

Mereka membikin kelompok. Dari kelompok itu ada anggota yang LGBT lalu bikin tempat fitness. Itu kedok aja seperti yang terjadi di beberapa tempat akhir-akhir ini.Tempat fitnesnya bukan tempat fitnes seperti di kalau mall-mall, itu kan jelas, biasa, terbuka.

Ini tempat fitness diberi kesempatan untuk hubungan intim. Fitness aja ditutup, apalagi Alexis. Di situ banyak kamar-kamar tersedia, banyak air mancur, banyak orang bugil, dan diperbolehkan bersenggama.

Seharusnya diadakan pembinaan. Ketangkep 40 orang, yang ditahan cuma dua orang. Ditahan juga nggak lama dibebaskan lagi. Karena polisi nggak ada hukumnya mesti diapain. Padahal semua organisasi sosial termasuk ICMI (Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia) menyediakan tempat konsultasi, psikolog, dan segala macam.

Tapi mana sampai sekarang, nggak ada beritanya. Kalau disediakan psikolog dan segala macam orang juga segan datang karena malu. Paling bagus ke dokter atau psikiater. Psikiater dan dokter kan melakukan sumpah jabatan sehingga rahasia klien terjamin.

Semua penyakit kejiwaan, silahkan berobat. Sayangnya penyakit kejiwaan sudah terlanjur banyak, bukannya makin berkurang. Yang kita obati dibandingkan yang berkembang lebih pesat. Kita sudah kasih rekomendasi. Sudah kasih macam-macam tapi mereka nggak acuh. Nanti kalau diadzab, Allah akan mengadzab siapa? Pemimpin yang nggak acuh atau kita yang tanggung jawab?

(Waktu: 2 November 2017. Tempat: Kediaman Prof. Dadang Hawari. Pewawancara: Mohamad Istihori. Kameramen: Arif. Transkrip: Yuno. Editor: Mohamad Istihori)

186 Total Views 3 Views Today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +