Anak Nakal dan Rahasia Bapaknya

Oleh: Mohamad Istihori

Mat Semplur, “Mengapa seorang anak dapat tumbuh  menjadi anak yang nakal iya, Pak Kiai?”

Kiai Jihad, “Nakal bagaimana dulu, Plur?”

Mat Semplur, “Susah banget dibilangin. Dinasehatin yang baik kagak pernah mau nurut. Bahkan kalau dia udah ngambek susah banget ditanya ini-itunya, Kiai.”

Kiai Jihad, “Kita sebagai orang tua yang hidup di zaman sekarang memang harus memiliki kesabaran yang sangat ekstra untuk menemani mereka belajar untuk menemukan kebenaran.

Orang tua harus memiliki waktu lebih banyak untuk mengenal karakter anak-anak mereka. Setiap anak memang memiliki kelebihan sekaligus kekurangan mereka masing-masing.

Kita orang tua juga sudah selayaknya mempunyai banyak pengetahuan agar bersikap dan berucap yang tepat saat mereka melakukan suatu kenakalan.”

Mat Semplur, “Tapi kadang saya suka kehilangan kesabaran, Kiai saat menghadapi kenakalan anak. Abisnya udah dibilangin berkali-kali masih saja dia mengulangi kenakalan tersebut.”

Kiai Jihad, “Anak-anak juga memiliki kepatuhan dan ketaatan yang berbeda-beda. Ada yang sekali dibilangin langsung nurut. Ada juga yang udah dinasihatin berkali-kali masih aja dia mengulangi kenakalan tersebut.”

Gambar: pixabay.com
Mat Semplur, “Terus sebagai orang tua, kita harus bagaimana menghadapi hal tersebut?”

Kiai Jihad, “Terus berusaha dan terus berdoa kepada Allah SWT, supaya Allah memberikan kepada anak-anak kita jalan untuk menerima kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang kita ajarkan.

Kita juga sudah selayaknya menjadi suri teladan yang baik bagi anak-anak. Jangan sampai kita bisanya cuma bilangin doang tapi anak tidak mendapatkan contohnya langsung dari kita dalam kehidupan mereka sehari-hari. Kalau kayak gitu kelakuan kita maka ucapan yang kita sampaikan tidak akan memiliki getaran dan kekuatan.

Ingat juga Plur, kita kagak bakalan pernah bisa memberikan hidayah kepada siapapun saja yang kita cintai. Termasuk kepada anak-anak kita. Hanya Allah yang memiliki hak prerogatif untuk memberikan hidayah kepada siapapun saja yang Ia kehendaki.

Lu camkan pula bahwa ‘anak adalah rahasia bapak’”.

“Maksud kalimat Kiai yang terakhir itu apa?” tanya Mat Semplur.

Kiai Jihad menjelaskan, “Jangan-jangan elu juga dulu waktu masih bocah susah dibilangin sama Bapak lu, Plur?”

“Hehehehe… Iya juga sih, Kiai,” jawab Mat Semplur sambil cengengesan dan tersipu malu.

“Lah kan emang ada juga pepatah yang mengatakan bahwa, ‘Buah itu tidak akan jatuh jauh dari pohonnya’,” tambah Kiai Jihad yang membuat wajah Mat Semplur semakin merah padam.

Kiai Jihad lalu menutup obrolannya dengan Mat Semplur kali ini dengan berujar, “Iya pokoknya tidak pernah akan ada maling di dunia ini yang memiliki cita-cita kelak anaknya juga akan menjadi maling. Tidak ada pelacur yang memiliki obsesi yang berharap anaknya akan menjadi penerus ‘perjuangannya’ dalam memenuhi nafsu seks lelaki ‘hidung belang’.

Semua orang tua pasti berharap agar anak-anaknya kelak menjadi lebih baik daripada dirinya yang sekarang.

Yang penting yang harus kita lakukan sekarang adalah jangan pernah lelah hati dan kehabisan akal untuk mendidik anak-anak.

Terus belajar kepada mereka. Bukan mereka yang belajar kepada kita. Terus pahami dan amati perkembangan mereka. Dan, yang tidak kalah penting lagi adalah selalu berdoa kepada Allah semoga kita semua diberikan keturunan yang ‘qurrotu `ayun’ (sedap dipandang mata).”

Amin ya Allah. Ya Robbal `alamin,” Mat Semplur meng-amini doa-doa Kiai Jihad tersebut dengan penuh khidmat.

(Jakarta, 16 Juli 2017)

189 Total Views 12 Views Today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +