Alif dan Dua Turis dari Prancis

(Catatan 10, Madani Adventure, Gunung Papandayan, Garut, 22-24 Agustus 2017)

madanionline.org – Ternyata selama mencatat, melaporkan, mengumpulkan foto, dan mendokumentasikan Madani Adventure, saya bukan hanya dihadirkan Allah mengenai Madani saja.

Ada dua peristiwa di luar Madani Adventure yang saya temui, pertama adalah kisah seorang anak berusia 6 tahun 4 bulan yang naik Gunung Papandayan. Namanya Alif Ridho. Ia bersama keluarganya mendirikan tenda tepat di sebelah tenda Madani.

Bocah asal Ciputat itu berjalan sendiri dari bawah sampai puncak Gunung Papandayan. Alif digedong orang tuanya hanya ketika melewati Kawah Belerang. Udara yang sangat dingin di sini tidak berpengaruh bagi Alif.

Ia dapat tidur pulas di malam hari sampai Shubuh tanpa memakai jaket di saat orang lain susah tidur bahkan ada yang tidak tidur semalaman karena tidak kuat menahan hawa dingin. Alif bersama keluarganya sebelumnya juga pernah mendaki gunung yang lain.

“Ini bukan merupakan pengalaman pendakian pertama bagi Alif,” ujar Ibunda Alif.

30 Alif, keluarga, dan Usdar
(Foto 30: Alif, keluarga, dan Usdar)

Pelajaran lain yang saya dapat bukan hanya tentang Alif dan keluarganya. Kang Cepi (pemandu pendakian) juga bercerita kepada saya mengenai dua turis Prancis. Kisah tersebut bermula ketika Kang Cepi masih bekerja di Bagian Informasi.

31 Kang Cepi
(Foto 31: Kang Cepi (tengah))

Dua turis Prancis hendak mendaki Gunung Papandayan. Dengan keterampilan berbahasa Inggris, Kang Cepi memberitahukan apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh para pendaki kepada kedua turis tersebut.

Sontak salah seorang turis laki-laki berkata, “Saya sudah mendaki dan menaklukkan semua gunung di dunia ini. Jadi Anda nggak usah khawatir dengan keselamatan saya. Dan, kami berdua juga tidak usah didampingi oleh pemandu. Biar kami berdua saja yang mendaki.”

Kang Cepi menerangkan bahwa setiap pendaki selayaknya ditemani pemandu. Namun karena kedua turis tersebut bersikeras menolak pendampingan maka Kang Cepi dengan berat hati melepas keduanya mendaki tanpa seorang pemandu pun yang menemani.

Peristiwa yang tidak diharapkan oleh setiap pendaki terjadi. Salah satu kaki turis wanita dari Prancis itu terperosok masuk kawah. Kondisinya sangat parah. Seluruh kulitnya dari telapak kaki sampai lutut habis terbakar. Kang Cepi dan timnya pun segera membawanya ke rumah sakit terdekat.

Di penghujung ceritanya itu, Kang Cepi berpesan kepada saya bahwa siapapun kita, berapapun gunung yang sudah kita daki, tetaplah waspada, hati-hati, dan jangan sombong. “Kiranya kita dapat mengambil pelajaran dari kisah dua turis Prancis tersebut,” ujar Kang Cepi.

(Mohamad Istihori)

171 Total Views 6 Views Today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +