Agama Penyelamat dari Narkoba

Aku bersujud, maka aku wujud
Manusia beragama akan jauh hidupnya dari miras dan narkoba
MADANIONLINE.ORG – Clinebell pada 1980 dalam penelitiannya yang berjudul, “The Role of Religion in the Prevention and Treatment of Addiction” menyatakan, “Setiap orang, apakah ia beragama atau sekuler, memiliki kebutuhan dasar yang sifatnya kerohanian (basic spiritual needs)”.

Setiap orang pada dasarnya memerlukan rasa aman, tenteram, terlindung, bebas stres, cemas, depresi, dan sejenisnya.

Bagi mereka yang beragama, yang menghayati dan mengamalkan seluruh ajaran agama yang ia yakini saat ini, kebutuhan rohani ini tentu saja dapat diperoleh dan dipenuhi melalui penghayatan dan penerapan dari keimanannya tersebut.

Namun, bagi mereka yang sekuler, yang memisahkan antara urusan dunia dengan agama, tentu saja tidak terpenuhi kebutuhan rohaninya. Rohaninya kering kerontang.

Maka, memakai narkoba dijadikan sebagai jalan yang ia anggap mampu menghilangkan rasa haus spiritualnya itu. Namun, bukan pemenuhan rohani yang ia dapat, justru ia malah mendapatkan kecelakakan diri, keluarga, dan masyarakat sekitarnya.

Sejauhmana agama menjadi vitamin bagi kesehatan rohani seseorang, Moore pada 1990 lewat penelitiannya yang berjudul, “Youthful Precursors of Alcohol Abuse in Physician” mendapatkan kesimpulan bahwa mahasiswa kedokteran yang tidak berkomitmen terhadap agama yang ia yakini akan berisiko empat kali lebih besar terlibat dalam penyalahgunaan dan ketergantungan kepada minuman keras (miras) (alcohol abuse and depedence).

Agama Menyelamatkan Manusia dari Narkoba

Temuan di atas juga dikuatkan penelitian yang dilakukan oleh Prof. Dr. dr. H. Dadang Hawari, Psikiater yang meneliti pasien ketergantungan narkoba dan miras. Prof. Dadang Hawari menyimpulan bahwa pasien tersebut memiliki minat yang sangat rendah terhadap agama bahkan boleh dikatakan sama sekali tidak memiliki gairah dalam menjalankan ajaran agamanya. Hal ini sangat berbanding terbalik dengan, yang oleh Prof. Dadang Hawari disebut dengan istilah kelompok kontrol (bukan pasien ketergantungan narkoba dan miras).

Penelitian sebelumnya juga pernah dilakukan oleh Daum dan Lavenhar pada 1980 yang menunjukkan bahwa mereka yang tidak menganut agama dan dalam riwayatnya tidak pernah menjalankan ibadah keagamaan di usia remajanya, berisiko tinggi dan cenderung menjadi seorang pecandu narkoba dan miras.

Kendler pada 1997 dalam penelitian berjudul, “Religion, Psyco-pathology, Substance Use, and Abuse”, mendukung hasil penelitian yang dilakukan oleh pendahulunya, Clinebell pada 1980.

Disebutkan bahwa para pecandu narkoba telah kehilangan “basic spiritual need” dan untuk mengisi kebutuhan spiritual yang hilang itulah mereka memilih narkoba untuk menambalkan. Namun, bukan spiritual mereka yang tertambal tapi justru spiritual mereka malah bertambah bolong bahkan terkoyak oleh narkoba dan miras yang mereka konsumsi tiada henti sampai merekapun akhirnya mati.

573 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +