Ada “Surga” di Madani Dua

Oleh: Mohamad Istihori

Sungguh tinggal di desa memberikan kita kenikmatan tiada tara. Kehidupan bersama masyarakat desa memberikan berbagai kesan indah yang tidak mudah begitu saja untuk dilupakan. Belum lagi alamnya menyuguhkan kepada kita berbagai macam jenis keindahan.

Panti Rehabilitasi Madani Mental Health Care menawarkan semua “hidangan” yang menyehatkan jiwa dan menyegarkan pikiran itu melalui program kemandirian yang digelar sejak Selasa-Sabtu, 18-22 Juli 2017 kepada para klien (atau yang lebih dikenal di Madani dengan istilah “santri) di Desa Sipak, Jasinga, Bogor.

Para santri Madani dua menjalankan berbagai program kemandirian. Mereka diberikan program berkebun, terapi sosial, terapi spiritual, dan berbagai program yang Madani desain untuk membantu proses pemulihan para santri Madani.

Waktu sekitar lima hari yang dirasakan para santri di Madani Dua di Desa Sipak, Jasinga, Bogor berjalan tak terasa. Semua bergembira menjalankan semua acara dan agenda di sana. Para santri juga diajak bersosialisasi dengan alam dan masyarakat sekitar.

Bukan hanya santri Madani yang bersentuhan langsung dengan “surga” di Madani Dua. Ust. Darmawan dan Ust. Jami juga diberikan peluang oleh Allah untuk merasakan “atmosfir surga” yang dimiliki Madani Dua.

Usdar dan Ujams kedatangan tamu. Seorang nenek berkunjung ke Madani Dua untuk mempersembahkan dua tandan pisang raja sere. Beliau tinggal tidak jauh dari Madani Dua. Usdar dan Ujams pun bercakap dan bercengkrama dengan nenek tersebut. Sang nenek sangat senang dengan kehadiran Madani Dua di sebelah rumahnya.

Saya juga pernah diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk menikmati “surga desa” ketika nyantri pada sebuah desa di Jawa Barat dan Jawa Timur. Orang desa itu memberikan milik pribadi mereka untuk kepentingan umum. Kebiasaan ini berbanding terbalik dengan budaya orang kota yang seringkali menggunakan kepentingan umum untuk kepentingan pribadi mereka.

Jangan heran kalau di depan rumah masyarakat desa kita menemukan kendi dan gelas yang dipersembahkan bagi siapa saja yang haus untuk minum. Orang desa dengan sangat suka rela memberikan sebagian tanah yang mereka miliki demi pembangunan sarana tempat ibadah atau pesantren.

Sebaliknya, orang kota merampok air desa untuk diproduksi menjadi air mineral yang kemudian ia perjual-belikan untuk kepentingan kekayaan pribadi mereka masing-masing. Orang kota malah berebut tanah wakaf yang di atasnya dibangun sarana tempat ibadah atau pesantren untuk dimiliki sendiri.

Sabrang Mowo Damar Panulu atau yang lebih ngetren disapa Noe Letto pernah menjelaskan bahwa kata paradise yang diartikan dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia menjadi surga berasal dari dua kata, para dan dise. Para bisa diartikan “banyak”. Dise berasal dari deso atau desa. Jadi, paradise atau paradeso adalah kumpulan desa yang bermakna surga.

Semoga para santri Madani dapat menyerap berbagai percikan “surga” yang mereka dapatkan selama menjalankan program kemandirian di Madani Dua. Sehingga proses pemulihan yang tengah mereka jalani saat ini dapat berjalan sesuai harapan yang sudah direncanakan.

Salam berobat, bertobat, dan bersahabat. Dan juga, salam lurus-meyakinkan.

(Jakarta, 21 Juli 2017)

504 Total Views 3 Views Today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Layanan konseling via emailEmail Counselling
+ +